Kehidupan

Uang Sekolah

Sefri Doni / 20/01/2020

Saya senang mencoba hal-hal baru. Hal-hal baru biasanya berasal dari keadaan sekitar. Sebagai contoh, saya pernah berkunjung ke kantor BPJS kesehatan dan ternyata disana untuk menjaring umpan balik dari peserta sudah menggunakan tablet dan tidak lagi menggunakan kertas. Hal-hal baru tersebut biasanya saya catat dan di ujicobakan kembali kalau sudah ada waktu.

Tidak semua hal-hal baru berhasil di uji cobakan. Kegagalan uji coba biasanya disebabkan oleh permasalahan teknis dan ketersediaan perangkat. Ketersediaan perangkat biasanya saya siasati dengan menggunakan perangkat milik orang lain. Bukan tanpa izin, melainkan saya mencoba membantu pemilik perangkat tersebut untuk mengoperasikan perangkatnya.

Dari banyak perangkat yang saya uji cobakan ada beberapa yang gagal. Kegagalan terparah adalah tidak bisa digunakannya kembali perangkat yang di uji cobakan tersebut. Untuk mengantisipasi terjadinya kegagalan biasanya saya sampaikan di awal kalau saya akan berusaha yang terbaik namun jika terjadi kerusakan saya tidak mampu menggantinya. Dan alhamdulillah sampai saat ini masih ada saja orang yang mau saya bantu mengoperasikan perangkatnya.

Jika dinilai kedalam rupiah, saya pernah mengalami kegagalan uji coba sebuah perangkat senilai Rp.950.000. Untuk nilai dibawah itu rasanya sudah banyak, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu.

Jujur saja, saya tidak pernah menyesal atas kegagalan dan kerugian yang saya alami sewaktu mencoba hal-hal baru. Sebab selalu ada nilai yang harus dibayarkan untuk setiap pengalaman baru. Saya menyebutnya “uang sekolah”.